Menyusuri Pematang demi Pematang

Embun pagi menetes perlahan
Menyusuri pelepah rumput pematang
Akhirnya jatuh ke lahan berongga
Walaupun rumput telah mengering
Tapi, embun tak pernah pilih kasih

Hembusan angin terasa bertiup pelan
Seolah setia menemani pagi
Ketika mentari baru bangun dari peraduan
Terasa sangat dingin pagi ini
Bulu roma berdiri menghadapi dingin ini

Dengan langkah tegap ku susuri
Pematang demi pematang
Kurasakan embun membasahi
Telapak kakiku yang tak beralas
Terus kususuri pematang demi pematang

Dengan pancaran mentari yang hangat
Hangatnya mulai membalut kulitku
Dinginnya pagi perlahan sirna
Apalagi hati ini terasa bahagia
Disana ada yang menanti

Dengan siulan kecil ku terus melangkah
Menyusuri pematang demi pematang
Sebilah sabit kutenteng di tangan
Bersiap untuk yang menanti disana
Yang siap dipetik karena sudah waktunya

Bulirmu telah banyak
Warnamu telah menguning
Dan batangmu telah merunduk
Aku siap untuk memetikmu
Setelah aku merawatmu dengan baik
Semoga padiku hasilnya melimpah
Anak istrikupun tersenyum bungah

Karya: Priyono
28 Agustus 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: