Catatan Harian Rio (Bagian 2)

Hari yang indah untuk mengawali hari yang cerah, begitulah perasaanku pada hari ini. Hatiku terasa plong sekali hari ini, berbeda dengan hari-hari biasanya. Aku juga tak habis pikir, hari ini kok aku merasa begitu berbeda dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Beban berat yang biasanya menggantung dalam hatiku, hari ini sirna… Seakan-akan seperti minum segelas es teh di siang bolong yang super panas.

Seperti biasanya, aku yang biasanya memberi predikat sendiri sebagai orang yang teliti selalu menyiapkan buku agenda. Kubuka perlahan buku agenda yang selalu aku simpan dan pelihara dengan baik. Kulirik pulpen yang biasa ku taruh digelas kristal nan elok dipandang mata, “Kemana sie pulpen ku, ni ada juga cuma pulpen yang suka macet dan pensil!”. Ku cari-cari dengan teliti gelas kristal itu, tapi aku tetap tidak bisa menemukan pulpen yang biasa aku cari. “Hemm.., kemana gerangan pulpenku.. Oh my God, berilah petunjukmu…”, sahutku dalam hati.

Setelah sekian lama mencari dan tetap saja tidak kutemukan pulpen yang kucari… “Ya, apa boleh buat, pakai pulpen yang ada aja”, kataku. Kuambil pulpen sembarang dari gelas kristal, meskipun aku tidak tau pulpen mana yang suka macet dan tidak. Akhirnya kujatuhkan pilihanku pada pulpen yang tutupnya aku melengkung sedikit. Mungkin ini pulpen bisa berguna, pikirku dalam hati.

“Sekarang saatnya menyusun aktifitas untuk hari ini…, awali hari dengan senyuman”, seruku dengan lantang. Kutarik benang kain tebal warna merah pembatas buku agendaku, dan dengan perlahan kubuka untuk memulai mengisi dengan rencana aktifitasku hari ini. Namun, apa yang terjadi.. “Nah, ini pulpenku yang kucari-cari dari tadi.. Ternyata terapit dan tersembunyi di tengah-tengah buku agenda, Huh..!!, menyebalkan..”.., gerutuku dalam hati.

Ada perasaan senang dan kesal juga, predikatku sebagai orang yang teliti bisa-bisa tidak pantas lagi kusandang nih, kalau aku keseringan mengalami kejadian yang kayak begini. “Sudahlah, jangan dipikirkan terlalu dalam.. Itu kan hanya masalah sepele”, pikirku dalam hati. Ketika aku baru saja menulis hari dan tanggal di agendaku, tiba-tiba kamar kosku di gedor. “Dog.. Dog..Dog..!, Rio makan yuk!, dah siang nih lapaar”, sahut temanku Joni diluar pintu kamar. “Jam berapa emank sekarang?”, tanyaku. “Udah jam 10 lho…!, yuk..!”, jawab Joni menjawab pertanyaanku. “Iya, tunggu bentar ya Jon..”, sahutku.

Kututup buku agendaku yang belum sempat aku isi dengan rencana dan aktivitasku hari ini. Pulpen yang biasa aku pakai aku tempatkan kembali kedalam gelas kristal. Kubuka lemari pakaianku dan kuambil dompet yang sudah 3 tahun menemaniku. Ya, walaupun dompet ini sudah lama, tapi bentuknya masih bagus dan pantas untuk dipakai. Mungkin karena kebiasaanku membeli barang yang sekalian memiliki merk. Biasanya barang yang bermerk dan harganya sesuai dengan brandnya, barangnya juga mengikuti lho..

“Krekeeet…!”, kubuka pintu kamar kosku dan kulihat Joni sudah menunggu di ruang tamu kos. Kebetulan kamar kosku berada diujung rumah yang pintunya langsung berhadapan dengan ruang tamu kos-an. Ya, walaupun kosanku tidak semegah kos-kosan yang mentereng dan berharga mahal, tapi aku sangat nyaman berada dikosan ini. Kalian tau ga, apa yang membuatku nyaman ngekos disini?, Kosan ini harganya mahasiswa banget. Temen-temen kosnya juga asyik-asyik banget dan satu visi denganku, memiliki kesukaan dan hobi yang serupa denganku. Pokoknya pas banget deh. ***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: